Jadi gini, gue tuh lagi males banget. Jadi sekarang gua mau bikin inovasi baru. Yaitu menggunakan kata sebutan orang pertama lain, saya.
Saya sedang gundah nih, saya prihatin dengan masa depan saya. Kenapa tampaknya kemalasan sangat menghalangi ambisi saya. Kalau begini terus kan, bisa-bisa saya kalah saing dengan murid lainnya yang juga berebut masuk universitas ternama. Bilang saya ngelantur, tapi keadaan otak saya memang rada absurd begini. Saya juga bingung, kenapa ya tidak ada orang yang mencoba menemukan obat penghilang malas? Frekuensi gelombang otaknya diatur sedemikian rupa gitu, dan menghindari seseorang untuk mengarah ke arah malas-malasan. Pasti orang itu langsung kaya, ya. Maksud saya, siapa juga yang tidak mau dirinya terlepas dari segala kemalasan? Populasi orang-orang malas di dunia ini juga pasti sontak berkurang. Tidak ada lagi penyakit pandemik jahanam bernama kemalasan. Jika saja ada, ya, hal seperti itu. Tiga kali sehari dengan seteguk air putih selama seminggu, dan kau pun menjadi rajin seketika! (seperti iklan bilang). Walaupun terdengar sci-fi banget, malah mungkin dongeng ya, apa mungkin ya suatu saat diproduksi hal seperti itu? Apa yang bakal terjadi pada umat manusia? Maksud saya, kemalasan itu juga adalah salah satu pertanda bahwa diri kita adalah manusia. Dapat merasakan malas membuat kita manusiawi. Terdapat kepuasan tersendiri juga dengan mengalahkan malas. Apa yang terjadi bila hal seperti itu dihilangkan hanya dengan produk farmasi pengubah proses kimia dalam tubuh? Bukankah pada dasarnya, manusia hanya akan menjadi semakin malas? Dalam konteks, kita tidak perlu bersusah-susah dalam mengalahkan malas itu sendiri. Hanya dengan pil dan setenggak air putih. Bukankah pada dasarnya, upaya kita dalam mengalahkan rasa malas tersebut yang membuat kita menjadi tidak malas? Bagaimana jika kita menemukan jalan pintas untuk mengalahkan rasa malas itu sendiri? Jika memang malas telah berhasil dihilangkan dari dunia ini, masih akan adakah konsepsi rajin? Jika memang semua orang telah menjadi rajin, apa yang bakal membuat seseorang disebut rajin, mengingat semua orang berlaku sama sedemikian rupa? Apakah akhirnya rajin itu yang akan menjadi malas? Atau akankah ada perubahan standar kompetensi antara kemalasan dan kerajinan? Anda tahu, saya sering sekali memikirkan hal tidak berguna seperti itu. Alangkah indahnya jika saya menggunakan waktu saya untuk berpikir yang tidak-tidak seperti itu untuk belajar, bukan? Dibanding dengan merenungkan tentang rasa malas itu sendiri, tidakkah lebih baik jika saya langsung beranjak dari sini dan belajar untuk mengejar masa depan saya yang saat ini sepertinya jauh sekali layaknya monas yang dilihat dari Bogor (baca: gak kelihatan)? Tapi itulah misteri dari suatu kemalasan, kawan. Pikirkan hal-hal yang telah anda perbuat karena kemalasan. Yang menyelewengkan anda dari tujuan anda sebelumnya. Seperti saya sekarang ini. Tahukah anda sekalian, seharusnya sekarang saya telah menyelesaikan seluruh naskah drama Bahasa Indonesia saya, jika tidak untuk kemalasan yang tiba-tiba menyerang dan menyuruh saya untuk memposting postingan aneh ini? Tahukah anda sekalian, postingan saya terkait study tour seharusnya sudah terpampang di tampilan antarmuka blog saya jika saja saya tidak cukup malas untuk menulisnya? Ada apa dengan segala kemalasan ini? Mengapa saya terus mengajukan pertanyaan yang memang seharusnya anda sekalian tidak ketahui jawabannya? Mengapa tidak kita sudahi saja postingan ini sebelum kita tersasar terlalu jauh?
No comments:
Post a Comment